Jangan Panggil Aku Presma bukan sekadar buku tentang organisasi kemahasiswaan atau kepemimpinan kampus. Buku ini merupakan refleksi kritis yang lahir dari pengalaman nyata penulis sebagai Presiden Mahasiswa, sekaligus ajakan untuk membongkar cara pandang yang selama ini menjadikan jabatan sebagai tujuan, bukan sarana pengabdian. Melalui kisah personal, kritik sosial, dan analisis berbagai teori kepemimpinan, pembaca diajak mempertanyakan kembali makna menjadi seorang aktivis: apakah mengejar pengaruh, atau benar-benar menciptakan perubahan.
Berangkat dari konsep The Golden Circle Simon Sinek, pemikiran Paulo Freire, Aristoteles, Habermas, Stephen Covey, James Clear, Niccolò Machiavelli, Michel Foucault, hingga refleksi Soe Hok Gie dan Albert Camus, buku ini memadukan teori dengan realitas kehidupan organisasi mahasiswa. Penulis mengkritik budaya “gila hormat”, jebakan program kerja yang kehilangan makna, kepemimpinan yang hanya mengejar eksistensi, serta organisasi yang sibuk menggelar acara namun minim dampak bagi masyarakat. Sebaliknya, buku ini menawarkan paradigma baru bahwa kepemimpinan sejati berawal dari why—alasan mendasar mengapa seseorang memilih berjuang.
Lebih dari itu, buku ini mengajak mahasiswa menjadi pemimpin yang membangun kepercayaan, menggerakkan perubahan berbasis data, beradaptasi dengan tantangan era digital, menjaga integritas di tengah godaan kekuasaan, serta merawat kesehatan mental agar perjuangan tidak berakhir pada kelelahan. Aktivisme diposisikan bukan sebagai panggung pencitraan, melainkan sebagai ruang belajar untuk melayani, berpikir kritis, dan meninggalkan warisan yang bermanfaat bagi sesama.
Penulis: Muhammad Qomaruddin
Ukuran: 14×21 cm
Jumlah halaman: 188 hal
ISBN On proses